Wednesday, November 17, 2010

Pembagian Daging Qurban --> Potret Kemiskinan atau Kerakusan?

Dalam Islam, Hari Raya Qurban adalah sebuah hari penting, selayaknya seperti Hari Raya Idul Fitri. Menyembelih hewan qurban bagi yang orang yang mampu secara finansial untuk kemudian dibagikan kepada orang yang tak mampu. Hal ini bertujuan untuk berbagi rejeki yang selama ini telah didapat dari Allah SWT. Penyembelihan hewan qurban dilaksanakan setelah shalat ied berjamaah. Setelah disembelih, para warga miskin berhak mengambil jatah dagingnya dengan syarat menunjukkan kupon yang diterima pada hari-hari sebelumnya (peraturan semacam ini terdapat di sebagian besar daerah di Indonesia).

Pada perayaan semacam ini, stasiun televisi berlomba untuk menyiarkan berbagai hal seputar Hari Raya Qurban, mulai dari berita paling sederhana hingga kompleks, yang membutuhkan perhatian lebih. Berita yang membuat saya tak henti bertanya adalah mengenai berbagai kecelakaan dalam proses pengantrian untuk mengambil daging qurban. Pertanyan yang selalu ada dalam benak saya adalah:
1). tidak bisakah para pengantri sabar untuk menunggu giliran dipanggil namanya?
2). apakah ada sesuatu yang salah dari aparat dalam mengatur antrian itu?
3). mengapa para warga rela berdesak-desakan hingga susah nafas hanya untuk daging yang jumlahnya tidak sebanding dengan usahanya untuk antri?
4). inikah potret kemiskinan masyarakat Indonesia, hingga benar-benar tak mampu untuk mengonsumsi makanan bergizi?
5). atau itukah potret kerakusan masyarakat Indonesia, hingga rela menyiksa diri untuk mendapatkan sesuatu yang GRATIS? meskipun sebenarnya meraka sering mengonsumsinya

Antrian bejubel hingga melebihi kuota antrian yang diprediksi sebelumnya hingga setiap orang merasa kesulitan untuk bernafas tentu bukan hal yang sekali dua kali terjadi di negeri ini. Tak hanya pada pembagian daging qurban saat Idul Adha, namun juga saat pembagian zakat pada saat menjelang Idul Fitri atau "angpao" saat Idul Fitri. Bukan hanya berdesakan di tengah antrian bejubel, sering kali ada pengantri yang mendapat kecelakaan, seperti sesak nafas, lecet-lecet karena terseret-seret, atau bahkan parahnya lagi harus ada korban (meninggal) pada prosesi pembagian rejeki ini. Tentu hal tersebut sangat miris, mengingat niat awal yang positif dari para pengantri, yaitu berusaha untuk mengais rejeki.

Sebenarnya, bila disimak lebih rinci perbandingan hasil yang didapat dengan usaha untuk mengantri sangatlah jauh. Para warga sangat rela untuk mengeluarkan tenaga sedemikian rupa (ditambah kesengsaraan yang diterima), sedangkan rejeki yang didapat hanyalah sedikit, seperti 1 kg daging. Sepintas, mungkin 1 kg daging sangat bermakna, apalagi untuk kalangan orang miskin. Namun, tidak semua orang melihat bagaimana realita pembagian di lapangan. Orang harus berdesakan hingga kesulitan untuk bernafas, beruntung kalau tidak meninggal. Sehingga dapat disimpulkan biaya untuk mendapatkan daging memang Rp 0, tapi kalau biaya lain dihitung (seperti sesak nafas,dll) maka warga harus menanggung biaya lebih dari harga daging yang dibagikan.

Kembali ke pertanyaan saya di atas. Saya pikir ini adalah salah satu kelemahan masyarakat Indonesia untuk tidak bisa menerapkan pelajaran "antri" dalam kehidupan nyata. Semenjak SD dalam pelajaran PKn selalu diajarkan untuk rapih dalam menunggu giliran (antri), namun pada kenyataannya tidak semua orang dapat melakukannya. Para warga terkadang tidak sabar untuk mendengar namanya disebut (atau takut kehabisan barang yang dibagikan?) sehingga maju ke depan hingga membuat orang-orang di depannya terdesak, dan akhirnya satu tempat pembagian riuh,penuh dan sesak oleh lautan manusia.

Setiap kegiatan pembagian pasti ada tim pengatur agar para pengantri dapat antri sesuai dengan peraturan. Mendengar berbagai kecelakaan terjadi dalam prosesi ini, saya pikir tidak bisa secara sepihak terus menerus menyalahkan aparat penegak peraturan bila yang diatur saja demikian. Tidak bisa tim pengatur berdiri sendiri dengan berbagai aturan yang telah mereka buat, sementara para pengantri tidak mau tunduk pada aturan tersebut.

Menuju petanyaan ketiga pada urutan pertanyaan yang saya ajukan di atas. Mengapa warga rela berdesak-desakan untuk barang yang tidak sebanding dengan usahanya mendapat barang tersebut? Hingga saat ini saya belum dapat memberikan jawaban pasti. Jawaban yang ada dalam pikiran saya mengenai pertanyaan ini masih prediksi belaka. Mungkin para pengantri sangat mengidamkan barang gratis (secara rupiah). Mungkin mereka memang benar ingin mengambil hak mereka. Mungkin karena mereka tidak bisa lagi menikmati barang itu dilain waktu. Bebarapa orang akan berpikir para pengantri adalah orang yang kurang kerjaan. Namun, pernyataan tersebut tidak dapat dikatakan begitu saja karena sebenarnya orang-orang itu benar membutuhkannya.

Dengan ditayangkannya liputan tragis seputar pembagian daging qurban, pertanyaan utama dalam pikiran saya adalah "inikah potret kemiskinan masyarakat Indonesia? atau kerakusan? Keduanya berbeda sangat tipis bila ditelaah kembali.
Orang yang seharusnya mengantri dalam proses pembagian tersebut adalah orang miskin, yang benar-benar membutuhkan santunan. Namun, saya tidak yakin dengan teori tersebut, karena masih banyak watak masyarakat kita yang sangat suka dengan sesuatu Rp 0-->GRATIS. Masih banyak orang Indonesia yang berpikir aneh, seperti "maju bila ada pembagiaan, mundur bila ada pemungutan", juga masih banyak orang Indonesia yang bertindak tidak masuk akal dengan melakukan kegiatan yang sebenarnya keuntungan lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan. Cukuplah bukti di lapangan (bagi saya) untuk mengatakan bahwa tidak semua yang ada di tempat pembagian adalah orang miskin. Bila begitu, orang yang tidak miskin ini sebenarnya memang mengaku (berpura-pura) miskin atau mengutamakan kerakusan belaka?. Saya pikir kerakusan memegang kendali pada orang-orang tersebut dalam situasi seperti ini. Bagaimana tidak? orang-orang yang mengaku miskin hanya ingin merasakan barang gratis, padahal mereka sudah pernah merasakan barangnya dan cukup mampu untuk membelinya.
Sekarang kita melihat kondisi itu tanpa melibatkan orang yang berpura-pura miskin di dalamnya, hanya mengasumsikan bahwa hanya ada orang miskin di dalamnya. Bisa dikatakan tingkat kemiskinan negri ini sudah akut karena bahkan hanya untuk membeli makanan bergizi saja tidak mampu. Sangat disayangkan. Kemiskinan yang pada akhirnya membuat orang berpikir tidak rasional sehingga berani untuk (secara tidak disadari) menyiksa diri sendiri. Bisa jadi juga dengan terbelitnya kemiskinan mereka juga bertindak rakus. Orang miskin bukan tidak mungkin bertindak rakus, karena sebenarnya mereka takut untuk masuk ke jurang kemiskinan lebih dalam, oleh karena itu mereka berusaha untuk mendapatkan lebih (apapun caranya). Dan bila orang mampu bertindak rakus, mungkin karena mereka tidak ingin kembali mendapatkan masa miskinnya atau ingin menikmati sesuatu yang lebih.

Yang jelas, drama pembagian rejeki (seperti hewan qurban)adalah drama yang membuat saya terus bertanya, "Apakah di tempat itu semuanya orang miskin? Jika begitu, separah itukah potret kemiskinan tanah air ini? Jika di tempat itu tidak semua orang miskin, maka separah itukah kerakusan para masyarakat Indonesia?"

Yang sangat perlu dipikirkan ulang oleh seluruh masyarakat adalah bahwa sebenarnya mereka harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dari harga daging, yang berarti pembagian tersebut tidak GRATIS-->Rp 0. Mereka menganggap pembagian tersebut gratis karena tidak mencantumkan unsur berdesakan, sesak nafas, lecet-lecet, dan pertaruhan nyawa.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment